SMINews.info || PANDEGLANG – Polemik terkait kualitas menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dapur Fastabikul Qhirat, Kampung Karet, Desa Angsana, Kecamatan Angsana, Kabupaten Pandeglang, terus menuai sorotan. Setelah muncul keluhan dari para orang tua siswa dan pengakuan pengelola dapur soal ketidaksiapan teknis, kritik keras datang dari kalangan organisasi pers.
Ketua Gabungnya Wartawan Indonesia (GWI) DPC Kabupaten Pandeglang, Raeynold Kurniawan, menilai alasan yang disampaikan pengelola dapur tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, Program MBG merupakan program negara yang menyangkut hak dasar anak-anak, bukan ajang uji coba.
“Ini program, bukan bahan uji coba. Kalau memang belum siap, lalu kenapa dijalankan? Jangan sampai anak-anak dijadikan korban dari ketidaksiapan pengelola,” tegas Raeynold.
Ia menilai pernyataan pengelola yang menyebut karyawan belum berpengalaman justru memperkuat dugaan adanya kelalaian dalam perencanaan dan pelaksanaan program. Seharusnya, kata dia, seluruh aspek teknis dan sumber daya manusia sudah dipersiapkan secara matang sebelum program digulirkan.
“Program ini menggunakan anggaran negara. Ada standar gizi, standar porsi, dan standar kualitas. Kalau dari awal sudah tahu SDM belum siap, itu berarti ada yang salah sejak perencanaan,” ujarnya.
Raeynold juga mendesak pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun instansi pengawas, untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan Dapur MBG Fastabikul Qhirat. Ia menegaskan perlunya transparansi anggaran agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.
“Harus ada evaluasi dan pengawasan ketat. Jangan sampai alasan teknis dijadikan tameng untuk menutupi persoalan yang lebih serius. Anak-anak berhak mendapatkan makanan bergizi sesuai dengan anggaran yang sudah ditetapkan,” tambahnya.
Ia menutup pernyataannya dengan meminta agar pelaksanaan Program MBG tidak sekadar mengejar formalitas, melainkan benar-benar menjamin kualitas dan manfaat bagi para siswa penerima. “Kalau memang tidak siap, lebih baik dihentikan sementara sampai benar-benar layak dijalankan,” pungkas Raeynold. (Red*













